Tidur dimobil… kebiasaan yg bisa juga membuat orang lain nyaman

Desember 29th, 2011 by endangst

Tidak ada toleransi buat ngantuk ketika saya bawa kendaraan baik motor maupun mobil. Dimanapun kantuk menyerang biasanya langsung saya cari tempat berhenti, beruntung jika saya sedang bawa mobil bisa langsung pinggirkan mobil langsung rebahkan kursi, tapi jika saya bawa motor maka saya cari halte dan tidur sebentar dihalte. Seberapa sering saya tidur “dipinggir” jalan seperti itu? dalam seminggu setidaknya bisa 3 kali saya tidur sepulang dari kantor. Bahkan pernah terjadi dalam satu malam 3 kali saya pindah-pindah tidur selama perjalanan pulang kantor kerumah yang berjarak cuma 25-an KM, pernah juga saya pulang jam 12 malam dan bangun jam 4 pagi! akhirnya tidak jadi pulang kerumah tapi balik lagi kekantor..!! Parah? hehehe.. tergantung penilaian anda.

Bukan hal yang aneh juga buat anak dan istri saya jika jalan2 bersama mereka saat liburan atau akhir pekan, mereka terpaksa harus menunggu di mobil karena saya ijin tidur dulu. Tempat favorit saya tidur tentu saja rest area jika di TOL atau Pom bensin jika di jalan Umum, tapi jalur kantor-rumah justru seringnya tidur benar2 di tepi jalan. Bahkan pernah berangkat kantor belum separuhnya saya terpaksa pinggirkan mobil untuk tidur sejenak. Pembaca tentu tidak habis fikir jika saya katakan bahwa saya juga sering memarkir mobil ditepi jalan yang jaraknya sudah 2 KM lagi mendekati rumah. Hehehe…

Tapi kebiasaan saya tersebut justru mendatangkan kebahagiaan buat saya, kenapa? Anak saya merespon positif kebiasaan saya tersebut. Dia batal melakukan perjalanan jauh dengan orang lain menggunakan kendaraan pribadi, hanya karena dia merasa nyaman jika saya yang jadi sopir, sebab katanya kalo Papa ngantuk pasti istirahat tidur, sedangkan orang lain belum tentu. :)

Ide “Briliant” Walikota Jakarta Timur…

Nopember 17th, 2011 by endangst

Tadi pagi denger berita dari Sonora. Walikota Jakarta Timur akan memajang foto besar2 orang yang membuang sampah sembarangan, hal tersebut dikatakan oleh Sekkonya (Sekretaris Kota?). Betapa saya tergelitik mendengar ide “briliant” tersebut. Saya sama sekali tidak bisa menahan keusilan saya untuk membahasnya disini.

Jika hal tersebut serius dilakukan, bukan sekedar ABS atau AFS (Asal Foke/Fauzi Senang). Dalam bayangan saya adalah maka akan banyak turun ke kewarga para PNS/Satpol PP dengan membawa kamera. Karena begitu banyaknya tempat yang harus di awasi, maka akan banyak tenaga yang dikerahkan. Kemudian dana disiapkan untuk biaya cetak foto, untuk bingkai/rangka dimana foto akan di pajang.

Apa yang terjadi saudara2? Para PNS/satpol PP itu akan banyak turun kejalan, itu jika program mau dilaksanakan secara efektif, berbeda jika cuma “asal jalan”.  Kalo cuma asal jalan biasanya beritanya besar2 dan banyak, promosi dimana-mana, tapi pelaksanaan sekedarnya saja (seperti halnya nasib Perda Rokok).

Pertanyaannya adalah ini program serius apa program ABS? Jika ini serius, please deh.. “rekonstruksi” atau di simulasi pelaksanaanya. Mungkinkan bisa berjalan dengan dukungan tenaga dan dana yang ada? Tidakkah pemberian “hukuman” itu malah melanggar dari peraturan PEMDA sendiri? Sudahkah Jaktim menyediakan fasilitas tempat sampah dan tempat pembuangan sampah yang cukup? sudahkah rasio tempat sampah dan rasio jumlah sampah mencukupi?

Hehehe… Pasti kalo Pak Sekko Jaktim Baca ini akan ngomong begini ” Ni orang njlimet amat sih… ”

Tapi saya akan bernadzar, jika program itu terlaksana secara serius, konsekwen untuk jangka waktu 3 bulan saja, saya akan Cukur gundul rambut saya kali ini,  meskipun saya tidak pernah melakukannya seumur hidup.

KECEWA PKS….

Nopember 9th, 2011 by endangst

Karena kasus Nunun saya benar2 kecewa dengan PKS. Betapa tidak, suami Nunun adalah kader PKS. Walau bagaimanapun PKS memiliki keterkaitan moral untuk membantu para penegak hukum menemukan dimana Nunun berada. Akhir-akhir ini saya juga perhatikan sepak terjang kader2 PKS juga tidak lagi waro\’. Tidak lagi berhati2 untuk hal yang mubah. Mubah tanpa etika moral dan politis akan mudah tergelincir kearah makruh. Untuk perbuatan makruh yang sudah dilakukan PKS sama nilainya dengan perbuatan haram yang dilakukan partai nasionalis lainnya. belum lagi jika makruh sudah dijadikan hal yang biasa, maka hal yang haram cuma tinggal tunggu waktu saja. Jika sudah demikian apa lagi yang diharapkan dari PKS?

Jika saja PKS mau ikut berperan membantu menemukan Nunun (terlepas Nunun bersalah atau tidak dan tuntas atau tidaknya kasus suap tersebut setelah Nunun disidangkan)  saya yakin PKS akan mendapat kredit point yang bagus dari rakyat, bukan untuk popularitas, tapi untuk mempertegas yang bathil dan munkar. Sudah terlalu banyak dinegara ini yang abu-abu.

Peran PKS yang bisa membantu KPK menghadirkan Nunun juga bisa berarti bahwa orang2 kuat yang disinyalir berada di belakang Nunun bagi PKS bukan masalah, tapi sebaliknya jika PKS terlalu mengambil sikap \”aman\”  itu bisa berarti banyak hal, salah satunya adalah PKS memang tidak ada apa-apanya dibanding orang kuat tersebut.

Penumpang di Atas Gerbong KA…

Oktober 6th, 2011 by endangst

Pagi itu saya beserta anak gadis saya sarapan Bubur Ayam Cikini yang tepat berhadapan dengan jalan layang Kereta Api. Beberapa kali kereta lewat dengan penuh sesak oleh penumpang, baik yang diatas gerbong, apalagi didalam gerbong. Beberapa kali fihak KA “meluncurkan” program untuk menghalau penumpang yang diatas gebong, dari mulai himbauan, usiran, pemasangan plang sampai penyemprotan dengan cat warna, tapi semua program tidak berhasil mencapai sasaran, kalaupun berhasil tidak lebih dari seminggu saja sejak program diluncurkan. Entah penumpangnya memang super bandel atau memang fihak KA cuma sekedar “ada” program atau memang petugasnya lebih dahulu lelah, sehingga kesannya hangat-hangat tahi ayam, setelah seminggu program diluncurkan, berikutnya ya kembali kekehidupan sediakala.

Anda tahu apa keuntungan naik di atas gerbong? saya paparkan beberapa keuntungan yang umum dirasakan.

1. Bisa gratis, karena kondektur tidak mungkin memeriksa karcis diatas gerbong.

2. Lebih sejuk karena full “angin”

3. Tidak berdesak-desakan

4. Pasti duduk bahkan bisa tiduran

5. Kecil kemungkinan jadi korban pencopetan

6. Bisa lihat pemandangan

Satu-satunya ancaman cuma masalah keselamatan. Keselamatan? untuk apa? buat golongan menengah kebawah, kenyamanan, keselamatan adalah barang mahal bahkan lebih mahal dari selembar karcis kereta yang tidak mampu mereka beli.

Mungkin ada juga yang sedikit mampu membeli karcis, tapi sayangnya fihak KA juga tidak mampu menyediakan kenyamanan buat mereka yang sedikit mampu itu.

Atau bagaimana jika masyarakat didik saja supaya taat aturan? He..he.. kalo kata Om Jin : “Mimpi sampeyan..!!” masyarakat terlanjur apatis dengan kata “taat aturan” sebab para pejabat, mentri, hakim, jaksa, polisi, pegawai pajak, yang mulia anggota DPR sudah mengajarkan dan mempertontonkan dengan vulgar melalui media surat kabar dan elektronik untuk tidak perlu taat aturan.

Mengapa tidak dikaji terlebih dahulu setiap peluncuran program? pengkajian tentu saja harus menyeluruh. Pengkajian yang hanya berasal dari satu-dua “kepala” tentu saja tidak dijamin akan sempurna.

Saran untuk solusi penetapan Awal puasa

September 22nd, 2011 by endangst

Sepertinya “kisruh” penetapan 1 Syawal bisa berkepanjangan, mengapa? karena yang bermain bukan lagi keilmuan dan keimanan tapi pertarungan dan ego pribadi, dan ini akan menjadi api dalam sekam yang setiap awal puasa ricuh, kemudian setelah lebaran reda dan ricuh lagi saat awal puasa begitu seterusnya.

Sulit dicapai titik temu jika ilmuwan masuk wilayah Syariah dan ulama masuk wilayah Astronomi. Karena sampai kapanpun tidak akan pernah tercapai kesepakatan, hal ini ibarat 2 orang buta diminta mendefinisikan GAJAH dengan “bidang raba” yang berbeda dan keduanya bukannya saling melengkapi tapi malah saling menyalahkan.

Menurut saya secara prinsip ada perbedaan antara penetapan 1 Ramadhan dengan awal puasa. Kenapa saya sebut berbeda? karena 1 Ramadhan otoritas dan wilayah astronom, sementara awal puasa adalah otoritas Ulama.  Astronom betapapun hebatnya tidak memiliki “umat”, dan ulama meski tidak memiliki “alat” tapi memiliki pengikut, mengapa penetapan awal puasa tidak kita serahkan saja secara veto kepada Ulama?

Para ulama bisa mengkaji dan menggunakan analisa, penelitian dan observasi para astronom, dan para astronom bisa menyempurnakan dan “update” karyanya secara terus-menerus. Jika para astronom memiliki perbedaan tentang 1 Ramadhan (ingat..!! bukan awal puasa), silahkan masing2 astronom menyempurnakan karyanya dan tidak perlu saling menjatuhkan karya astronom lainnya, kemudian otoritas ulama lah yang menarik kesimpulan dan memformulasikan kajian2 para astronom, atas pertimbangan itu dan pertimbangan Syariah barulah ulama (kementrian agama?) menetapkan awal/akhir puasa.

Semoga saja sedikit saran ini bisa jadi hiburan… :)

Apakah Islam harus dibuktikan kebenarannya secara ilmiah ?

Juli 21st, 2011 by endangst

Mohon maaf jika saya menulis hal yang salah dan keliru, tapi siapa tahu memang pemahaman saya benar-benar keliru. Jika memang keliru setidaknya saya memiliki satu hal yang benar dengan menuliskannya di sini dan kemudian kewajiban andalah sebagai sesama untuk memberitahu saya tentang kekeliruan saya, dan saya sangat berterima kasih utk itu, semoga Allah akan membalasnya.

Sejak dahulu, bukan sekali dua kali, bahkan hampir seluruh da’i sering mencoba memaparkan kesesuaian fenomena, kejadian alam dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka sering menyebutkan fakta ilmiah, pembuktian Al-Qur’an dan lain sebagainya. Yang intinya ingin memberitahu bahwa Islam itu benar dengan melihat berbagai keajaiban, mukjizat atau sekedar “kelebihan” dan keistimewaan dari suatu keadaan atau benda.

Misalnyanya saja ada berita semangka, Labuh, Bulu kucing, awan, telur, batu, jeruk, jambu air, kaktus dan lain-lain  bertuliskan Allah, Muhammad atau susunan ranting di hutan yang membentuk lafadz Laillahaillallah. Terlepas dari berita itu sekedar hoax atau fakta. Tapi kita seringkali terjebak pada suatu dogma bahwa mengingkarinya adalah murtad dan kafir. Mengingkari Allah dalam Islam memang benar murtad, tapi meragukan keaslian tulisan  itu apakah disebut murtad juga? bagi orang yang sering berkecimpung dalam dunia design, memanipulasi gambar dan foto bahkan video bukan hal yang sulit.

Ketika saya meragukan itu kemudian ada juga yang mengatakan dan menuduh bahwa saya meragukan Allah bisa berbuat atau melakukan hal seperti itu. Saya biasanya menanggapinya hanya dengan senyum karena :  “Jaka sembung bawa golok” (hehehe…)

Dunia yang kita jalani benar-benar sangat amat relatif. Jika kita mengatakan bahwa sudah ditemukan oleh para ilmuwan sesuatu, yang kebetulan sesuatu itu sangat sesuai dengan setidaknya salah satu ayat Al-Qur’an, maka kita akan sangat takjub dan meluncurlah kata-kata pujian : Subhanallah..!!, maha besar Allah, Allah menunjukkan kuasanya.. dan lain sebagainya. Supaya tidak salah tafsir perlu saya bold bahwa KATA-KATA PUJIAN ITU SAMA SEKALI TIDAK SALAH..!! Mengagumi penemuan ilmiah itu juga tidak salah, menafsirkan bahwa ada garis merah antara ayat Al-Qur’an dengan penemuan ilmiah tersebut juga tidak keliru. Yang keliru adalah membuktikan kebenaran ayat Al-Qur’an itu dengan penemuan Ilmiah tersebut. Kenapa saya katakan keliru? karena seolah-olah penemuan itulah yang mengesahkan validitas ayat Al-Qur’an..!! Jika tiba-tiba ada penemuan lain yang justru mementahkan penemuan pertama (karena dunia ini relatif dan berkembang) bagaimana nasib ayat Al-Qur’an tersebut? apakah kita akhirnya malah meragukan?

Bukankah lebih baik menebalkan keimanan akan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian menjadikannya benteng untuk memfilter seluruh kejadian alam, penemuan ilmiah dan lain sebagainya,  kita kaji penemuan itu (bukan ayat Al-Qur’annya) jika tidak sesuai dengan ayat Al-Qur’an.

Sekali lagi Mohon maaf jika keliru, karena cuma sekedar saran dari orang yang sama sekali tidak bisa mengaji Al-Qur’an dan bukan Ilmuwan.

Blog detik, disinilah saya memperbaiki diri

Juli 19th, 2011 by endangst

Entah terlalu peduli, entah juga usil atau malah kurang kerjaan. Saya seringkali merasa gampang terusik atau merespon ketika ada sesuatu yang menyulut sisi emosi saya. Baik sedih, senang apalagi marah. Berbagai persoalan bisa menjadi topik yang membangkitkan reaksi saya. Cinta, kemiskinan, pemerintahan, politik, banjir, ketidak adilan atau bahkan soal dadar telor. Pokoknya segala sesuatu yang menurut sementara orang sepele, bagi saya bisa jadi pembahasan yang menguras emosi.

Saya tidak tahu hal seperti itu positif atau negatif, tapi yang saya tahu sifat reaktif dalam kehidupan nyata saya seringkali merugikan saya, terutama respon yang bersifat amarah.

Penataan diri saya mulai dari mencoba menuliskan respon reaktif saya ke Blog detik. Ketika amarah itu meledak-ledak maka saya tidak lagi meresponnya dalam dunia nyata,  sekuat tenaga saya lampiaskan melalui tulisan. Karena saya tidak mau dianggap tulisan saya cuma sekedar omelan kosong dan juga saya tidak mau ketahuan bahwa penulisnya orang kampung yang tidak berpendidikan, maka dalam menulis saya mencoba menjadi laki-laki \\\”cool\\\” meski kampungannya masih sering melekat, saya cari kata-kata dahsyat yang biasa digunakan oleh para ilmuwan, saya cari kata-kata indah yang digunakan penyair. Tapi sehebat apapun saya memoles diri, tapi tetap saja terlihat beda antara penulis dan pemarah. Hehehe…

Tapi setidaknya dari setiap kemarahan, saya tetap bisa belajar untuk menulis dengan baik  untuk merekayasa imej. (tentu saja kata \\\”baik\\\” itu semata-mata menurut versi saya).

Beberapa kali saya bersyukur ketika respon kemarahan tidak saya wujudkan dalam dunia nyata tapi saya tulis dalam \\\”dunia detik\\\”. Saya sebut \\\”dunia detik\\\” karena biasanya jika sedang marah menulis demikian cepat dan nafas memburu dan berakhir dengan kelelahan yang amat sangat.

Alhasil kemarahan yang saya lampiaskan dalam bentuk tulisan bisa berubah wujud menjadi sindiran, gagasan atau bahkan penawaran. Itu karena dalam menulis saya betul-betul jaim (jaga imej), jadi orang yang baca lebih sedikit yang tersinggung (mudah-mudahan, setidaknya saya berusaha begitu).

Tapi ketika saya menulis sesuatu yang romantis dan mendayu-dayu, terasa sekali menulis begitu lancar mengalir syahdu. Sering terasa nyaman dan damai dihati.

Satu hal lagi manfaat saya menulis di blogdetik, saya jadi banyak belajar, saya bisa tersenyum, saya bisa menanggapi komen dengan canda dan saya bisa banyak bersabar dan legowo ketika banyak komen yang memaki, menghina dan merendahkan saya.

TIPS memasak dari bapak2 yang tidak mengerti masak :)

Mei 9th, 2011 by endangst

(Teriring maaf buat Pak Bondan, Ibu Sisca, Mas Rudi, Mbak Farah jika menganggap tulisan ini menjerumuskan.. hehehe..)

Jangan terlalu serius ah… kali ini tidak ada salahnya mengendurkan fikiran, otot2 dan hati. Kita duduk santai sambil membayangkan jadi koki yang handal, hahaha…

Jika ada live sepakbola Indonesia di TV dan acara pertandingan masak baik di Indonesia atau di luar negri, saya lebih memeilih channel memasak, hehehe.. saya bukan koki bahkan sama sekali tidak mengerti masak.

Memasak dirumah sering juga saya lakukan, bahkan jika saya lagi kebelet masak, pembantu saya suruh duduk manis nonton TV, makan siangnya saya yang siapkan, bahkan untuk seisi rumah. Tapi itu terjadi saat weekend.

Tapi terus terang saya benar2 memasak tanpa resep (sering dapet komplen dari istri yg sebenarnya juga tdk banyak mengerti tentang masakan), istilah sundanya masakan : “SAKA HAYANG” atau “SAKA DAEK” dan “SAKA AYA”  (semaunya dan seadanya), maksudnya semaunya yang masak dan seadanya bumbu yang ada dan bahan yang tersisa di lemari pendingin.

Prinsip yang saya pegang, pokoknya campur aja yang ada, asal jangan tabrakan. Bumbu tidak berebut ingin saling menonjol. Goreng yang bisa di goreng, fahami karakter masing2 bumbu. Tidak perlu selalu mengikuti pakem yang ada, misalnya saya sering menumis sawi tanpa saya potong2, saya tumis utuh, atau menggunakan bumbu mie instant untuk bumbu nasi goreng. Sering juga saya masak nasi di rice cooker dengan dicampur mentega, garam, irisan bawang merah, cabe merah dan sereh, rasanya nikmat, apalgi ditambah telur mata sapi, dimakan saat masih mengepul, dan lapar yang amat sangat, rasanya tidak kalah dengan masakan koki bintang 5. Hehehe…

Kuncinya : “BERANI”, “BERANI” DAN “BERANI”.  Berani di hina karena gak enak, berani tidak tersinggung karena gak ada yang mau makan.. hehehe.. tapi berani juga besok2nya disuruh masak lagi karena se isi rumah begitu terkesan.

Islam Babak Belur….

April 29th, 2011 by endangst

Ini cerita tentang pertandingan tinju kelas berat. Papan ronde yang dibawa wanita sexy sudah menunjuk angka 10. Disudut merah, petinju yang berjanggut tapi bergamis dan tidak menggunakan kolor layaknya petinju duduk setelah terhempas oleh upper cut lawan. Darah mengucur deras dari hidung dan bibirnya. Tulang pipi membiru disana-sini. Babak Belur. Disudut biru ada pelatih sedang memberikan arahan dan tenaga medis yang sedang “ngipasin”, tapi petinjunya seperti hologram, ada tapi tidak kelihatan. Sementara penonton riuh rendah memberi semangat juga seperti hantu, tidak terlihat tapi jelas terdengar.

Bel kembali berbunyi, Hantaman demi hantaman terus menerus mendarat diwajah petinju berjanggut itu, sejak jaman orde baru.  Dengan sisa tenaga dan semangat yang masih ada sang petinju masih terus bertahan meski seringkali terhuyung, memang belum KO, tapi wajah sudah babak belur. Permainan belum berakhir, tapi andai pertandingan dihentikan saat ini, dan angka dihitung, sudah bisa ditebak siapa yang kalah.

PKS… sebaiknya tidak usah menggunakan label Islam…

April 26th, 2011 by endangst

Seusia hampir setengah abad ini saya hanya pernah ikut pemilu satu kali, maaf, bukan saya tidak peduli, justru saya sangat peduli makanya saya melakukan itu dengan sadar.  Jika parpol menganggap satu suara saya begitu berarti, menurut saya seratus juta suara rakyat bagi anda sama sekali tidak berarti. Terbukti, jutaan rakyat berteriak-teriak, anda tetap saja tidak peduli, anda sibuk dengan diri dan parta anda saja.

Saya sampaikan lagi, hati saya sama sekali tidak pernah terisi oleh yang namanya partai, oleh sebab itu tidak ada partai yang saya suka juga tidak ada partai yang saya benci. Buat saya anda ada atau tidak : “I Don’t Care..!!!”. Anda hidup urusan anda, anda setengah mati megap-megap, urusan anda, anda tergusurpun urusan anda. Buat saya angin lebih berwujud dari sebuah partai.

Jika kali ini saya menyinggung tentang PKS, bukan pula berarti saya suka, atau jadi simpatisan atau membenci PKS. Cuma karena militansi ke-Islaman saya saja, dan sialnya anda menggunakan atribut Islam dalam partai anda. Meski saya bukan apa-apa dalam keimanan maupun pengetahuan ke-Islaman, tapi ibarat kata orang betawi : ” Agama Ane ente ganggu, ane bacok..!!”

Nah…!! huru-hara yang akhir-akhir ini terjadi di PKS, benar2 mengancam kredibilitas Islam. tidak peduli saya dengan nasib partai anda tapi saya peduli terhadap Islam. Image yang anda bangun tentang citra PKS=Islam sudah terlanjur melekat. Jika anda tidak lagi percaya diri dengan bendera Islam anda bisa jaya, dan anda coba2 beralih menjadi partai liberal dengan berkedok Islam, segera saja tanggalkan citra Islam dalam diri partai anda, sebelum “betawi-betawi” itu marah…!!

Tidak perlu anda berkelit bahwa partai anda disusupi musuh, dikacaukan orang, ada skenario menjatuhkan. Faktanya adalah anda para PKS-Mania tidak bisa Menjalankan Ukhuwah Islamiyah dengan konsisten. Apa yang bisa diharapkan dari PKS, jika memelihara itu saja anda tidak mampu..!!

Bagaimana mungkin anda mampu menyatukan Indonesia yang demikian beragam agama, suku, pemahaman, politik, bahasa? Dalam lingkaran dalam anda saja yang cuma satu corak anda sama sekali kerepotan.

Anda sama sekali bodoh jika anda tidak bisa menggunakan Al-Qur’an sebagai pemersatu, sebagai jalan kembali, sebagai titik pusat rembukan jika terjadi perbedaan pandangan, perbedaan arah perjuangan dan perbedaan konstelasi politik.

Atau memang Al-Quran bagi anda cekarang cuma lembaran kertas, yang harus dicetak kemudian anda bisa ambil untung sedikit dari kelebihan biaya cetaknya?

Maaf… jika saya sama sekali tidak terlalu santun dalam menyampaikan ini, tapi inilah kata-kata terbaik yang saya pilihkan disaat darah mendidih, muka merah dan mata gelap melihat kiprah anda.