Akhir-akhir ini saya benar2 geli atas hasil otak-atik orang-orang yang mungkin butuh sensasi. Mungkin ini warisan zamannya undian toto, porkas, greyhound, togel atau apalah namanya, pokoknya yg berhubungan dengan nomor undian. Ketika itu, yang benar2 maniak judi pasti sibuk mengotak-atik angka dan menghubungkan sesuatu hingga jadi angka.
Begitu juga dengan bencana gempa bumi, beredar sms, email, Facebook yang berisi otak-atik angka yang dihubungkan dengan saat terjadinya gempa. Simak salah satu status di facebook yg saya kutip ini :
“gempa di Tasik jam 15:04, gempa di Padang jam 17:16, gempa susulan jam 17:56, besoknya gempa di jambi jam 08:52. COBA LIHAT AL-QUR’AN nomor surat dan ayatnya sesuai jam-jam tersebut”
atau ini :
“Gempa di padang rabu lalu terjadi pada pukul 17.16 …coba buka dalam Kitab Suci Alqur’an surah 17 ayat 16 … Subhanallah …Allah SWT telah menunjukan kpd kita tentang kekuasaaNya dan kebenaran Alqur’an . Subhanallah … Allah Maha Besar …”
keduanya tidak menyebutkan waktu mana? WIB? WIT? atau setempat.
Allah sih bisa saja melakukan hal itu, mudah baginya, tapi coba deh kita kritis sedikit, dan berfikir global serta menyeluruh tanpa batas ruang dan waktu.
Mari kita inventarisir beberap pertanyaan yang menyangkut hal tsb :
1. Jam siapa yg digunakan melihat terjadinya gempa? jam tangan saya dengan 3 jam dinding dirumah semua tidak ada yg sama persis dalam menitnya. Jadi jam siapa yg dijadikan patokan?
2. Sehebat dan seistimewa itukah Padang, Indonesia, Asia, Planet bumi? dimata Allah sehingga untuk gempanya saja (padahal gempa terjadi milyaran kali di pulau2 lain, dinegara2 lain, disudut bumi lain, diplanet lain) yang terjadi kemaren dicatat dalam Al-Qur’an?
3. Besok2 kalao ada gempa atau bencana lain apa harus sesuai dengan ayat2 tsb? kalo nggak gmn?
4. Apakah itu berarti surat2 diatas surat ke-24 tdk berhubungan dengan gempa dan bencana? karena tidak mungkin ada pukul 25.00?
5. Bagaimana mengartikannya jika gempa terjadi pada jam yang ternyata berhubungan dengan surat dan ayat yang tdk ada hubungannya dengan gempa bahkan surat atau ayat yang membawa berita bahagia?
Otak-atik angka itu menurut saya malah mengkerdilkan dan merelativitaskan Al-Quran. Al-Quran jadi sedemikian lokalnya.